« August 2005 | Main | November 2005 »

Jorok

Hidup serumah sama orang dari berbagai negara di negeri orang, memang memerlukan toleransi yang tinggi. Gue tinggal di rumah yang isinya 11 orang. Kita berasal dari berbagai macam negara, gak ada yang sama. Pada dasarnya, mereka semua baik dan ramah. Walaupun memang bukan rumah khusus wanita, tapi para prianya sopan - sopan, kok. Dalam arti gak ada yang kurang ajar, gitu. Kita juga cukup kompak, kadang2 masak bareng2 di dapur, pergi ke acara college sama2, atau sekedar hang out disaat week end di cafe deket tempat tinggal kita.

Untuk urusan menjaga kebersihan di kamar mandi, untungnya rata2 pada sadar. Oya, untuk 11 orang ada 2 kamar mandi dan 1 WC. Kebetulan, college menyediakan cleaner yang datang tiap pagi kecuali rabu dan week end buat membersihkan "communal area" semisal dapur, kamar mandi, WC dan menyedot debu. Jadi lumayan bersih lah kamar mandi dan WC-nya. Kecuali kadang2 suka ada yg buang tissue ke WC terus gak di flush (sorry nih). Tapi gak apa2lah. It's not a big deal.

Untuk urusan dapur, semua orang suka masak. At least, mereka akan ke dapur buat makan. Entah sarapan, makan siang atau makan malam. Perlengkapan masak dan pecah belah di rumah kita lumayan lengkap. Hanya masalahnya, nggak semua orang bersedia atau senang mencuci peralatan makan dan masaknya yang kotor. Gue sebel banget liat tumpukan sendok, garpu, piring, gelas, panci, penggorengan, atau pisau kotor di tempat cucian. Apa sih susahnya nyuci semua peralatan yang udah dipake? Kalo emang udah dipake buat masak, kan mestinya ya dicuci biar yang laen bisa make juga sesudahnya. Belum lagi sisa makanan yang suka di buang aja ke sink, bukannya ke tempat sampah. Jadi udah banyak peralatan kotor, eh banyak sisa makanan lagi. Nyebelin gak sih?

Personally, gue selalu berusaha untuk mencuci semua peralatan masak dan makan yang gue pake. Gue merasa itu adalah bagian dari tanggung jawab gue hidup bersama di satu rumah dan menggunakan fasilitas bersama. Ternyata, tidak semua orang berpandangan sama. Mungkin mereka mengira peralatan yg kotor itu akan dicuci oleh cleaner kita. Tapi ternyata cleaner itu berpikiran sama dengan gue yaitu mencuci semua peralatan masak dan makan yg udah dipake adalah tanggung jawab masing - masing.

Jadi lah sink di dapur berhiaskan peralatan masak dan makan yang kotor plus sisa makanan. Gue gak enak buat negur mereka, soalnya mereka udah cukup dewasa buat bertanggung jawab, seharusnya. Semua adalah postgraduate student, bukan mahasiswa undergraduate yg masih di bawah 20 tahun. So, berhubung gue akan tinggal bareng mereka untuk masa sekitar 10 bulan lagi, jadi gue terpaksa menyimpan kekesalan gue sendiri. Kadang gue gregetan pengen nyuci semua peralatan yang kotor itu, tapi kan gue disini buat ambil MSc (Master of Science) bukan Master of Sink Cleaning....

I do cooking

I don't know why I never interest in cooking. My mom is a good cook, kind of expert I guess. But she never asked me to help her with cooking and I guess I was too ignorance to take the initiative. My late mother in-law was also an expert in cooking. She used to cook delicious meal for her family and my husband is very fond of her cooking. Nevertheless, she never critized my inability to cook.  Furthermore, although my husband loves to eat, he never insist on me to cook a "real" Indonesian food. Well, he sometimes teasing me, it's true. But I continue living with my "self-indulgence" for not cooking for my family and keep rely on my "kitchen cabinet" to do that. Ironic but sounds familiar, doesn't it?

Now here comes the part when I have to leave to UK as a student. Since I must be able to survive with a "limited but appropriate" monthly stipend from the scholarship body, I know that I have to save money. One way to do that is by cooking for myself. However, even though I know the consequences before I left, I still hadn't had the initiative to learn cooking. Wrong decision. I didn't even buy a recipe book as I thought I can rely on the instant spices by bringing lots of them here. So, I bought many of them and thinking that I will only need to buy vegetables, meat, chicken or fish and cook rice to have a proper meal. Well, at least I can cook a very simple vegetable fry. But when my luggage was more than the allowed weight to carry, I had to make a difficult decision. I just realized that all of those instant spices was about 1 kg. Simply just because I didn't want to pay extra money for an overweight, I left half of the instant spices I already bought and took out some other things. Life is just a matter of choice.

As a consequence of my decision, now I have to cook with what available here. It's not too bad actually, because I found a chinese supermarket which sell almost all of asian ingredients. Superb. The problem is, I only have limited and unreliable knowledge about blending of all of those species into a cooking and making it a food. Tragic, isn't it? Well, I know that I have no choice. I have to cook. So, I start using my limited knowledge to explore new recipe and start browsing some web to get some ideas. So far, so good. While I'm wandering around the chinese supermarket, I also think of what kind of food that I can cook with all of those "superb" spices.

I made rendang using instant spices last week and still have some left. So I only cooked long-bean fry for my dinner tonight. It was delicious. Unfortunately, I used the only rendang spices that I have. Should I ask my family to send some or should I buy a blender to mix the spices by myself? Well, if this is about survival then I should not ask for help from my far away family. Hmm...I wonder if I can find the recipe on the web or if I have time to cook rendang from the scratch...

Apa ya?

2 minggu sudah gue melewatkan malam2 sendiri, sepi dan dingin di kamar gue nun jauh di UK. Salah sendiri sih, kenapa mau jauh2 merantau ke negeri orang buat belajar lagi? Akhirnya mesti ninggalin suami dan anak di tanah air. Tapi ya...itulah konsekuensi dari sebuah keputusan yang gue harap bisa memberikan kebaikan buat gue dan keluarga gue di masa depan.

Sendiri di negeri orang ternyata gak gampang, ya. Selain dingin yang mesti gue jabanin saban hari, gue masih harus berkutat dengan kuliah, bikin tugas, baca buku, nyuci baju, dan masak. Hmm, palagi bulan puasa kaya' gini. Mesti bangun sendiri, masak sendiri atau ngangetin sayur dan ...makan sendiri. Sebetulnya lumayan juga buat menghemat pengeluaran tapi gak enak puasa sendirian. Tiap kali ditanya kenapa gak makan siang, gue mesti jelasin dengan gamblang. Dan lagi, gue mesti jalan kaki kemana - mana. Seneng sih karena pastinya bikin jantung gue berolahraga setelah bertahun - tahun keenakan duduk dibelakang setir. Tapi kalo pas puasa kudu jalan2 jauh ditengah angin dingin dan kadang hujan, lumayan juga perjuangannya. Anyway, those are the consequences of a choice.

Jadi...sementara ini gue mesti dengan suka hati menjalani hidup sendiri sebagai anak kos yang jauh dirantau. Banyak temen senasib, temen - temen satu rumah gue juga baek2, temen2 kuliah juga gak ada yang aneh2...so, biarpun jauh dari suami dan anak itu tidak menyenangkan....tapi semua harus dijalani.

Karena malam semakin larut dan besok pagi gue mesti bangun sahur...sendiri, terus ada kuliah pagi...jadi gue mesti stop. Mungkin lain kali gue akan bercerita tentang Oxford yang indah.

Good night.